Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Video : gesel kem*luan belakang wanita di bazar ramadhan

Bagi manusia yang ingin mencari pahaal berganda bulan ramadhan adalah suatu penantian penuh bermakna yang tidak terdapat di bulan-bulan lain

Bulan ramadhan dikenali sebagai penghulu segala bulan kerana di dalamnya terdapat malam lailatulqadar yang diburu oleh umat islam seluruh dunia

bahkan pada bulan ramadhan juga syatitan-syaitan dibelenggu tetapi malangnya ada juga manusia yang mengantikan tempat syaitan tersebut dengan melakukan perbagai maksiat di bulan penuh keberkatan ini

ada yang tidak berpuasa dengan mencari lubuk ‘plastik hitam’ untuk menjamu selera. Ada yang berpuasa tapi tidak solat sedangkan solat tersebut sebagai tiang agama

tetapi ada juga yang membuat maksiat di bazar ramadhan seperti video di bawah

 

Maksiat di Bulan Ramadhan, Dosanya Lebih Besar

Disebutkan dalam hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR. Ahmad, 2881, Bukhari 6491 dan Muslim 130)

Dalam masalah pahala, memang tidak bisa kita hitung secara matematis. Namun dalam hadis di atas, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memastikan bahwa maksiat yang dilakukan hamba sekali, tidak digandakan dosanya. Tapi ditulis sekali. Sebagai pembenar bahwa Allah tidak mendzalimi hamba-Nya.

“Allah sama sekali tidak berkehendak untuk mendzalimi seluruh alam. (QS. Ali Imran: 108).

Ada kuantitas, ada kualitas.

Si A dan si B melakukan satu maksiat yang sama. Masing-masing mendapatkan satu dosa.Apakah kita bisa memastikan bahwa nilai dosa keduanya sama?Tentu saja tidak. Ada banyak faktor yang menyebabkan nilai dosanya berbeda. Sehingga bisa jadi yang satu mendapatkan dosa sebesar mobil, sementara satunya mendapat dosa seukuran kerikil. Semua kembali kepada latar belakang masing-masing ketika berbuat dosa.

Kita meyakini amal soleh di bulan Ramadhan, pahalanya dilipat gandakan. Dan kita juga perlu sadar bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan manusia di bulan Ramadhan, dosanya juga lebih besar dibandingkan di luar Ramadhan. Bisa jadi, tetep dapat satu dosa, tapi nilainya lebih besar dibandingkan ketika maksiat itu dilakukan di luar Ramadhan.

Al-Allamah Ibnu Muflih dalam kitabnya Adab Syariyah menuliskan,

“Pembahasan tentang kaidah, bertambahnya dosa sebagaimana bertambahnya pahala, (ketika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia.”

Selanjutnya, Ibnu Muflih menyebutkan keterangan gurunya, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah,

:

“Syaikh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumnya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut. (al-Adab as-Syariyah, 3/430).

Ada banyak dalil yang mendukung kaidah ini. Diantaranya, firman Allah,

“Siapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. al-Hajj: 25)

Kita bisa perhatikan, baru sebatas keinginan untuk melakukan tindakan dzalim di tanah Haram Mekah, Allah beri ancaman dengan siksa yang menyakitkan. Sekalipun jika itu dilakukan di luar tanah haram, tidak akan diberi hukuman sampai terjadi kedzaliman itu.

Alasannya, karena orang ini melakukan kedzaliman di tanah haram, berarti bermaksiat di tempat yang mulia. Yang dijaga kehormatannya oleh syariat. (Tafsir as-Sadi, hlm. 535).

Demikian pula, ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan kota Madinah. Beliau mengatakan,

“Madinah adalah tanah haram, dengan batas antara bukit Ir sampai bukit itu. Siapa yang berbuat kriminal di sana atau melindungi pelaku kriminal, maka dia akan mendapat laknat Allah, para Malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima amal sunah maupun amal wajibnya.” (HR. Ahmad 1049 dan Bukhari 1870)

Beliau memberikan ancaman sangat keras, karena maksiat ini dilakukan di tanah haram, yang dimuliakan oleh syariat.

Kita kembali kepada dosa di bulan ramadhan. Mengapa dosanya lebih besar? Orang yang melakukan maksiat di bulan Ramadhan, dia melakukan dua kesalahan,Pertama, melanggar larangan Allah.

Kedua, menodai kehormatan ramadhan dengan maksiat yang dia kerjakan.Ini memberikan kita pelajaran agar semakin waspada dengan yang namanya maksiat di bulan ramadhan. Di samping maksiat itu akan merusak puasa yang kita kerjakan, sehingga menjadi amal yang tidak bermutu.Allahu alam.[ ]

Sumber KonsultasiSyariah

TREDING

Exco Johor : tak puas hati dengan TSMY, Mahathir ugut letak jawatan PM

Netizen dakwa lagu Siti Nordiana antara punca PH kalah di Rantau

Pukul & pecahkan dara gadis bawah umur netizen dedahkan wajah ‘barua’ berkenaan

7 gambar wanita dirog*l mayat keadaan telanj*ng dicampak celah batu

Lantikan MB Johor : Peguam dedahkan siapa lebih ‘berkuasa’ PM atau Sultan

TMJ Anak raja kurang ajar dan paling bangsat! – Mak cik PPBM

Ketua polis terkejut Acap hilang di Gopeng ditemui di johor?

Video : Majlis perkahwinan dihiasi tarian berah! gadis separuh bog*l